Tidak bisa dipungkiri bahwa satu-satunya yang tidak bisa direm adalah waktu. Setiap orang punya jatah yang sama yakni 24 jam sehari. Orang yang sukses dengan yang gagal mempunyai waktu yan sama yakni 7 hari dalam seminggu. Begitupun juga calon ahli surga dan calon ahli neraka, waktu yang diberikan kepada mereka semua adalah sama yakni 30 hari dalam sebulan. Yang jadi soal adalah bagaimana mengelola waktu agar menjadi manfaat di duniai dan akhirat.

Orang muslim dan non-muslim mempunyai jatah waktu yang sama yakni 60 menit dalam 1 jam. Dunia yang mereka tempati juga sama seperti dunia yang kita tempati, dunia yang satu ini juga tapi mengapa kita yang orang islam ini telah jauh ketinggalan? Diantara penyebabnya adalah karena kita belum mengerti betapa berharga dan pentingnya waktu!

Alhasil, ynag menjadi masalah sesungguhnya bukan terletak pada waktunya tetapi pada bagaimana kita bisa mengisinya dengan cara yang sebaik-baiknya. Waktu yang telah berlalu tidak mungkin bisa terulang kembali. Kita duduk-duduk bersama di dalam masjid menunggu seorang penceramah tiba. Diantara kita ada yang membaca Al-Qur’an, ada yang sibuk berdzikir tetapi mungkin ada juga yang sibuk melamun. Jelas waktunya sama tetapi hasilnya berbeda. Semua bergantung pada bagaimana kemampuan kita dalam memanfaatkannya.

Ketika menunggu dimulainya rapat, diantara kita ada yang wiridan di dalam hati, berbicara tentang suatu ilmu atau Cuma membicarakan piala duhia atau bahkan Cuma menggosipkan seseorang atau ada juga yang sibuk melamun. Jelaslah sudah bahwa kita semua menunggu dimulainya rapat dan kegiatan kita berbeda namun waktunya pasti sama. Alhasil, isi dari hasil penantian rapat tersebut pasti sangat berbeda dari yang satu ke yang lainnya.

Ada yang mendapatkan pahala atau rahmat dari Allah SWT, ada yang mendapatkan suatu ilmu atau informasi yang baru, ada juga yang sekedar mengikuti percakapan yang lagi dibicarakan alias Cuma menghabiskan waktu tanpa ada manfaat dan bahkan ada pula yang mendapatkan laknat Allah SWT.

Ingat-ingatah selalu bahwa dalam dimensi masa atau waktu ini segala sesuatu yang ada pada diri kita adalah amanah. Mulut kita adalah amanah. Jangan biarkan, ia digunakan untuk mengobrolkan sesuatu yang sia-sia. Masih bnayak perkataan lain yang bermanfaat dari pada berkata sesuatu yang belum tentu benarnya. Maka sekali-kali jangan bunyikan mulut ini kecuali kita pastikan bahwa omongan yang kita ucapkan menjadi amal.

Misalnya ketika naik angkutan umum dan kebetulan di samping kiri dan kanan kita ada yang mengobrol dengan obrolan yang tidak karuan, kalau kita berkeinginan untuk ikut mendengarkannya maka kita sudah termasuk orang yang merugi. Ingat-ingatlah, setiap kita mendengar sesuatu secara otomatis sesuatu tersebut akan menjadikan kita berpikir mengikuti apa yang kita dengar itu.

Telinga kita juga amanah. Jangan biarkan telinga kita mendengarkan hal-hal yang tidak berguna atau lebih dekat kepada mudharat bahkan digunakan untuk hal-hal yang tercela. Ingat-ingatlah ketika kita mendengarkan sesuatu maka secara otomatis informasi itu diterima oleh otak dan langsung diproses olehnya sehingga secara tidak langsung kita akan memikirkan apa yang kita sedang dengarkan. Bahkan, tidak menutup kemungkinan bahwa kita akan membenarkan apa yang kita sedang dengarkan meskipun kita belum tahu jelas benar tidaknya apa yang kita dengar.

Kita jangan hanya asal menerima saja namun kita harus bisa menyaring apa yang kita dengar meskipun kita tidak mempunyai niat untuk mendengarkannya. Kita harus selektif dalam setiap informasi apa yang kita dapatkan baik disengaja ataupun tidak disengaja dalam memperolehnya.

Hidup ini hanya sebentar dan hanya sekali saja. Kita belum tentu mempunyai panjang umur. Kita semua pasti mati. Dan kita tidak akan tahu pasti kapan kita akan mati namun kita harus siap kapanpun. Jadi persiapkan diri kita untuk bisa menghadapi hal itu terjadi dengan membiasakan hal-hal yan positif, mengisinya dengan hal-hal yan baik dan tidak membuang waktu kita sia-sia.

Kita hidup di dunia ini tidak akan terasa lama. Kita tidak pernah sadar kalau kita telah hidup lama namun bekal kita masih belum cukup. Kita tidak terasa kalau umur kita sudah banyak; sudah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun kita hidup di dunia ini namun kita belum terasa telah lama hidup di dunia ini. Kita hanya merasa oh iya umur saya sudah sekian tahun. Namun kita tidak merenungkan apa saja yang telah kita perbuat.

Sebaliknya kita akan terasa lama jika menunggu sesuatu apalagi sesuatu itu tidak kita minati atau kita minati misal rapat. Kita merasa menuggu rapat 30 menit itu terasa sangat lama seakan-akan menunggu rapat selama 30 menit itu 1 tahun. Bahkan kita bisa merasa jenkel

Dalam hidup yang sekali-kalinya ini kebutuhan kita semakin meningkat. Kita hidup harus bisa bersaing di jaman yang serba maju dan modern ini. Semua tidak akan terpenuhi kecuali dengan berusaha meningkatkan kemampuan kita sendiri. Dan kemampuan terpenting dari kemampuan – kemampuan yang lain adalah kemampuan iman dan ibadah kita.

Kita harus meningkatkan kemampuan kita yang satu ini. Karena dengan iman dan ibadah yang makin bermutu, hidup kita akan semakin bermutu pula. Kita pun akan mampu mengahadapi masa depan menjadi lebih baik. Maka jangan biarkan mulut kita berbicara, mata kita melihat, telinga kita mendengar, otak kita berpikir, kecuali kita pastikan apa yang kita bicarakan, lihat, dengar, dan pikirkan itu adalah hal-hal yang serba manfaat.

By: Arif